Kamis, 22 September 2011

Puskesmas Warujayeng Mafia Pungli Berjamaah

Para PSK (Pekerja Sek Komersial) sebagai sapi perahan sesuai praktek korekan / pengobatan bagi bagi hasil terindikasi adanya bancaan dana dari PSK lokalisasi kandangan maka perlu jadi sorotan, dikemanakankah uangnya?

Nganjuk-OPSI
Kegiatan korekan vagina atau me ngukur kapasitas vagina yang sudah berjalan hampir dua tahun ini diloka lisasi Dusun Kandangan, Desa Ke dungrejo, Kecamatan Tanjung anom, Nganjuk yang dilakukan oleh Puskesmas Warujayeng cukup men jadi sorotan publik / media masa.

Karena kegiatan semacam itu mungkin tanpa seijin dari Instansi terkait seperti Dinkes misalnya. Dan tanpa memandang resiko ini. Keberanian puskesmas sendiri da lam pengelolaannya, hanya berten densi memakai dasar / alasan demi penanggulangan penyakit HIV / AID dalam rumornya. Akan tetapi HIV/AID yang bagaimana secara fakta belum pernah ada terbukti dilokali sasi ini. Namun semua hal tersebut semata sebagai obyek penyakit itu dibesar besarkan agar PSK takut. Untuk mendapatkan income demi kepentingan, karena disamping ini ada kegiatan rutin yaitu suntikan yang juga dilakukan oleh Puskes mas Warujayeng.

Dalam seminggu sekali tiap hari kamis dengan pungutan biaya Rp 5.000,- bagi PSK yang tidak hadir dan tidak suntik bias titipuang pada petugas untuk yang dapat hadir dibe ri obat anti biotic antara lain: Amoxi cillin  kaplet 500 mg, Trivonal me thampyron 500 mg, Ampicillin kaplet 500 mg. Adapun tempat suntik ditentukan dib alai pertemuan Dusun Kandangan. Para PSK berdatangan meski pun tidak semua nya hadir namun terdeteksi ± 100 PSK yang berdomisili di Lokalisasi ini.

Sedangkan untuk kegiatan korekan yang telah dikoordinir oleh mantan RW Du sun Kandangan Sugiharso sebagai antek yang menyuruh seseorang pembantunya un tuk memerintahkan agar para PSK berkum pul di perempatan beringin dan mobil ambu lan dari Puskesmas dating lalu meluncur di bawa ke Puskesmas Warujayeng secara bergiliran dalam satu bulan dua kali. Dan setelah ditempat di lakukan kegiatan terse but dan dipungut biaya Rp 15.000,- per ke pala dan pembantu  anthek yang mengikuti mengaku mendapat Vie Rp 30.000 – Rp 33.000,- Ironisnya kenapa kegiatna ini tak dijadikan satu paket dengan kegiatan injeksi atau memang ada terkandung modus lain yang sehingga perlu diwaspadai walau para PSK tersebut tidak ada yang mempermasa lahkan. Rumor yang berkembang diling kungan bahwa antek-antek tadi bila be rangkat membuntuti para PSK sudah ber ubah lagaknya kayak pejabat penting, mung kin gila jabatan “Katanya yang tak mau disebut namanya kepada OPSI.

Kepala Puskesmas Warujayeng Dr. Su hariadji, saat diklarifikasi OPSI di kantornya Jum’at, (13/9) Pukul 10.00 Wib lalu se belum berkomentar melecehkan OPSI de ngan bahasa amat kasar yaitu “koranmu gak beredar neng kene, Koran gak terkenal dan sambil menelpon stafnya Lilik Yuliani dan seseorang berkulit kuning yang tak di kenal namanya. Suhariadji memanggil de ngan kata bu Lilik sampean mrene sak iki, ki enek wartawan ki karepe piye? Opsi cu ma menanya pak dokter kok bicaranya begi tu? Yang mengandung arti bahwa dokter semacam ini adalah dokter yang tidak pu nya etika atau aturan bicara keras tidak so pan seperti anak ngaritan dan lagi meleceh kan sebuah perusahaan koran, maka patut dituding dokter yang Booodoh, setelah di klarifikasi tentang kegiatan korekan me ngenai izin dari Dinkes Nganjuk Sumariadji menjawab tidak ada ijin, namun Dinkes se kedar tahu saja untuk medisnya yang me nentukan doketernya. Yaitu kepala Puskes mas dan medis juga diberi hak menyuntik bila pasien/PSK minta suntik.  menying gung biaya Rp. 15.000,- itu atas kesepakat an yang dulu kata Suhariadji dan Lilik Yuli ani yang menjawab agak gemetar ketakutan karena dipertanyakan opsi mengenai bukti kesepakatannya itu ada apa tidak?

Hee....  ternyata ijin maupun surat ke sepakatan tidak bisa ditunjukkan. Semen tara Suhariadji sebagai dokter hanya plonga-plongo saja. Diterangkan oleh Lilik lagi bah wa dana Rp. 15.000,- itu yang masuk ke Puskesmas hanya Rp. 12.500,-  yang Rp. 2.500,-  masuk kas Kandangan jawabnya. Alasan yang masuk puskesmas untuk beli peralatan medis seperti label, Handskund, dll. Dan bisa dilihat di klinik Adenium Gu yangan sana pak. “katanya” untuk  Hand skun bila habis saya juga beli dari dinkes. Untuk kegiatan korekan diakui tiap satu bu lan dua kali. Kepada Dinas DINKES Ngan juk melalui Sugeng Kabid Pemberantasan Penyakit pada jum’at itu juga ia tidak berani komentar, menyarankan biar yang komen tar nanti Kadis aja. “saya takut kalau keliru nanti”. Karena Kadis tidak ada sekarang.

OPSI hendak klarifikasi DPRD Kab. Nganjuk untuk menanyakan perda yang berkaitan dengan biaya yang menyangkut RS kepada pasien sayangnya para anggota dewan tidak ada yang hadir satupun karena usai kunjungan. Lalu Kasubag Keuangan Sekretariat DPRD Dra. Jendra Riantini, MM. Ditanya bahwa komisi yang membi dangi masalah ini komisi apa bu? Jendra menjawab dan menyarankan kalau suruh tanya pada komisi B dan komisi D. Karena kedua komisi itu berkaitan kalau masalah mengenai bidang kesehatan. Okey.... terima kasih bu.. jawab OPSI.uTut

0 komentar:

Posting Komentar